Selasa, 18 Desember 2012

La Sfera (Part 2)

La Sfera*
(Cerita, tokoh, karakter, dan setting adalah khayalan penulis semata.
Maaf jika ada yang salah. Namanya juga karangan.. ^^)


Bip bip bip... bip bip bip...
Dengan mata masih terpejam, Lee Seon Kyun melambaikan tangan kanannya, mencoba meraih jam weker yang ada di atas laci samping tempat tidurnya. Dia mematikan alarm kemudian bangkit sambil mengerang.
Dia merentangkan kedua tangannya ke atas sejenak kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu dia pergi ruangan gym mininya untuk jogging di atas treadmill miliknya pribadi.
Sementara itu, seratus meter darinya, Go Hye Sun dan Seung Ji baru saja turun dari bis.
“Asisten dapur adalah orang yang pertama masuk dapur dan orang yang terakhir keluar dapur,”kata Seung Ji menjelaskan sementara mereka terus berjalan. “Tugas asisten dapur  cukup banyak. Kau harus menyiapkan bahan-bahan dasar membuat pasta, seperti bawang putih, kaldu, minyak zaitun, dan lain-lain. Jadi kau harus sudah sampai di restoran jam tujuh pagi. Kemudian kau harus membantu chef mengambil bahan-bahan di ruang penyimpanan selama mereka memasak. Selain itu, kau harus membersihkan dan mengepel dapur ketika semua chef sudah pulang sehingga kau baru bisa pulang sekitar jam sepuluh malam. Arasseo?”
Hye Sun mengangguk. “Ne.”
“Nah, ini tempatnya,”kata Seung Ji ketika mereka berdiri di depan sebuah gedung tinggi
“Huh? Ahjussi, bukankah ini apartemen?”
“Ne. Di lantai dasar apartemen ini ada restorannya dan kemarin adalah hari terakhirku bekerja di sana. Ayo.”
Mereka masuk ke dalam apartemen mewah itu.

Choi Won Il baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas laci kemudian melihat layarnya. Dari Han Hee Won.
“Haseyo (=halo). Ne, Hee Won?”
“Haseyo,”jawab Hee Won di seberang sana. “Oppa (=panggilan dari perempuan kepada pria yang lebih tua), kau sudah bangun rupanya.”
“Tentu saja. Aku bahkan sudah mandi.”Won Il nyengir lebar sembari memandang pantulan dirinya di cermin. Dia menggosok rambut basahnya dengan handuk supaya lekas kering. “Wuee?”
“Mm, siang ini kau punya acara tidak?”
Won Il berpikir sejenak. “Anio. Wuee?”
“Aku ingin mengajakmu pergi ke sebuah pameran kuliner khas Jepang di suatu tempat. Kau mau?”
“Tentu saja. Aku suka wisata kuliner.”
“Oke. Jam dua belas ya?”
“Mau kujemput?”
“Tentu saja,”suara Hee Won terdengar semakin riang. “Kau baik sekali.”
“Sampai ketemu. Bye.”
Dia menutup ponselnya dan meletakkannya di atas laci sambil tersenyum. Ketika dia memilih baju di ruangan khusus untuk menyimpan koleksi busananya, ponselnya kembali berdering.
Won Il kembali ke kamar tidurnya sambil menenteng kemeja, jas, dan celana panjang yang hendak dipakainya. Dia menatap layar ponselnya. Dari Kang Seung Ji.
“Haseyo. Ne, ahjussi?”
“Won Il ssi,”balas Seung Ji. “kami sudah berada di depan restoran.”
“Arasseo. Sepuluh menit lagi aku akan tiba di sana.”
Lima menit kemudian Won Il sudah berada di dalam lift. Sekilas dia melirik jam tangannya. Beberapa saat kemudian dia keluar lift dan berjalan cepat menemui dua orang yang telah menunggunya di depan tempat usahanya.
“Annyeong haseyo (=hai, apa kabar).”

Go Hye Sun menatap tulisan yang terukir indah di atas pintu masuk restoran itu.
La Sfera.
Hye Sun menoleh ke kiri dan ke kanan. Koridor ini masih kosong, begitu pula restoran yang ada di depannya. Secarik kertas bertuliskan Closed tertempel di salah satu pintu ganda restoran.
“Aku sudah tidak membawa kunci restoran ini,”kata Seung Ji, memandang pintu restoran itu. “tapi nanti kau akan menerima kunci untuk membuka restoran ini lebih awal daripada yang lain.”
Hye Sun mengangguk mengerti.
“Annyeong haseyo,”sapa suara tak jauh dari mereka.
Hye Sun menoleh. Dia melihat Won Il  berpakaian sangat rapi –kemeja biru muda yang dibalut jas berwarna abu-abu yang terkancing sempurna serta celana panjang yang warnanya senada dengan jasnya. Dia terpesona melihat cara berjalan Won Il yang cepat namun anggun, sangat mirip dengan model.
“Selamat pagi, Won Il ssi,”Seung Ji menunduk memberi hormat.
Hye Sun menirunya.
Won Il membalasnya, lalu dia maju sambil merogoh kunci dari saku jasnya. Setelah itu dia membuka pintu restorannya.
“Silakan,”tangannya melayang ke bagian dalam restorannya.
Seung Ji dan Hye Sun masuk ke dalam restoran. Seung Ji langsung menunjukkan kepada Hye Sun di mana letak dapurnya. Entah mengapa jantung Hye Sun berdebar-debar. Dia mencium aroma parfum mahal yang berbeda dari tubuh Won Il yang berjalan di belakang mereka.
Ternyata dapurnya lebih luas daripada yang bisa Hye Sun bayangkan. Di tengah ruangan terdapat meja panjang. Di sana berderet tempat penggorengan, sementara di atasnya bergantungan wajan, panci, dan pengaduk. Di salah satu dinding terdapat rak tempat menyimpan piring saji dengan aneka bentuk.
“Ini adalah ruang penyimpanan,”kata Seung Ji seraya membuka pintu ruangan yang lain. Dia menunjuk kulkas raksasa yang ada di ujung ruangan kecil itu. “Itu adalah freezer, tempat menyimpan hewan-hewan laut, seperti lobster, kepiting, dan lain-lain.”
“Gomapseumnida, ahjussi,”kata Won Il ketika mereka berdiri di tengah dapur, di samping meja panjang. “atas tur singkat yang Anda berikan pada Hye Sun. Saya sangat terbantu.”
Wajah Hye Sun terasa panas ketika Won Il memandangnya sembari tersenyum.
“Saya sama sekali tidak merasa repot, ssi,”jawab Seung Ji. “Setelah ini saya akan mengajari Hye Sun bagaimana cara mengiris dan memotong bahan sesuai standar restoran ini.”
“Anda baik sekali.”Won Il melihat arlojinya. “Saya minta maaf tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi, saya ada urusan lain. Ini kunci restoran, Hye Sun. Permisi.”
Hye Sun menerima kunci itu dan memandang punggung Won Il hingga menghilang dari pandangan.

Lee Seon Kyun berdiri di depan cermin. Dia sedang melilitkan dasi merah di kerah baju chefnya ketika ponselnya berdering. Nada dering itu lagi. Pagi ini ibunya sudah berusaha menghubunginya sebanyak tiga kali namun Seon Kyun tidak menggubrisnya. Sepuluh menit kemudian, ketika penampilannya sudah rapi sehingga tidak ada lagi yang perlu dibenahi, ponselnya kembali berdering. Seon Kyun menghela napas panjang dan memungut ponselnya yang ada di atas meja dengan setengah hati. Tanpa memandang layar dia langsung menempelkan ponselnya di salah satu telinganya.
“Haseyo. Ne, eonma (=ibu)?”
“Akhirnya kau angkat juga teleponmu.”suara ibunya terdengar jengkel.
“Mianhamnida, eonma.”
“Eonma mempunyai kenalan baru seorang gadis. Dia cantik sekali.”
Seon Kyun memejamkan mata, mencoba menahan diri agar tidak menutup ponselnya.
“Haseyo? Seon Kyun, kau mendengarku?”
“Ne, eonma.”
“Apakah malam ini kau...”
“Malam ini aku sudah janji dengan Won Il untuk makan malam bersama di suatu tempat, eonma,”potong Seon Kyun asal bicara
“Oh begitu. Kalau besok?”
“Aku tidak tahu. Eonma, bisa tidak kalau minggu ini tidak ada acara kencan?”
Seon Kyun mendongak karena mendengar pintu kantornya terbuka dan melihat Won Il masuk ke ruangannya.
“Seon Kyun, kau sudah...”
“Mianhamnida, eonma, manajer masuk ke kantorku. Sudah dulu ya, bye.”
Seon Kyun menutup ponselnya.
Won Il duduk bersandar di kursi berlengan yang ada di depan meja. Kaki kanannya bersilang di atas kaki kirinya.
“Biar kutebak,”baru saja dia mulai bicara Seon Kyun sudah memotongnya.
“Tidak perlu kau tebak. Aku tahu tebakanmu benar.”
Seon Kyun terhenyak di kursi berlengannya dengan wajah muram.
“Jadi,”Won Il bangkit dan mencondongkan tubuhnya di atas meja, memandang Seon Kyun dengan antusias. “kapan hyeong kencan lagi?”
Seonn Kyun mengeluh. “Tidak ada kencan.”
“Tidak ada kencan?”ulang Won Il bingung. “Lantas?”
“Aku muak sekali dengan acara kencan yang dibuat eonma.”Seon Kyun menegakkan tubuhnya untuk menuang air putih ke dalam gelas kemudian meminumnya. Dia merasa tertekan. “Mengapa eonma selalu memaksaku tertarik dengan kenalan wanitanya? Entah sampai kapan eonma akan menyerah.”
 “Sampai hyeong memutuskan gadis mana yang kau pilih sebagai istrimu,”jawab Won Il. “Hyeong, umurmu sudah 32 tahun. Kau...”
“Kau mirip sekali eonma,”potong Seon Kyun jengkel. Dia meletakkan gelas itu. “Tidak ada yang salah dengan usiaku.”
Won Il diam. Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang sudah dianggapnya saudara itu.
“Hari ini kau tidak ada acara kan? Tadi pagi aku membaca berita di internet. Kabarnya ada pameran kuliner khas Jepang di Seonul Hotel. Aku ingin mengajakmu pergi ke sana.”
“Gomawo (=maaf, informal), hyeong. Siang ini aku akan pergi ke sana dengan Hee Won.”
“Bagus,”sindir Seon Kyun. “Sekarang kau dekat dengan wanita itu. Kalian pacaran?”
“Anio.”
“Sincha (=benarkah)?”Seon Kyun tidak percaya. “Tapi bisa kulihat di matanya kalau dia tertarik padamu. Kemarin kulihat dia menghadiahkanmu mantel yang bagus sekali.”
“Kami hanya berteman, hyeong.”Won Il menjelaskan dengan sabar. “Mantel itu salah satu rancangannya. Dia terus menerus memaksaku untuk menjadi model line clothingnya.”
“Kau memang pantas menjadi model, dongsaeng.”
Won Il mendengus tertawa. “Kalau aku menjadi model, siapa yang akan menjalankan restoran ini?”
“Kau bisa menyerahkan restoran ini padaku.”Namun Seon Kyun cepat-cepat mengoreksinya. “Hanya bergurau.”

Dapur La Sfera dipenuhi bunyi denting pisau yang beradu dengan nampan kayu. Go Hye Sun sedang memotong kentang ketika dia mendengar suara orang-orang yang sedang mengobrol di luar dapur. Makin lama suara mereka makin keras. Dia menoleh ketika pintu dapur menjeblak terbuka.
“Annyeong haseyo, ahjussi,”sapa orang-orang yang tadi ngobrol itu.
Seung Ji menoleh. “Oh, annyeong haseyo.”
Dua orang perempuan itu mendekati Hye Sun dan Seung Ji.
“Anda mendapatkan asisten, ahjussi?”tanya perempuan berambut ikal seraya memandang Hye Sun.
“Anio. Dia bukan asistenku,”Seung Ji melirik Hye Sun. “Dia menggantikan pekerjaanku di sini.”
“Apa?”Dua perempuan itu nampak kaget.
“Wue (=mengapa)?”tanya perempuan berambut lurus.
“Kemarin malam kepala chef Seon Kyun memecatku. Kemudian manajer Won Il meminta Hye Sun untuk menggantikan posisiku.”
“Annyeong haseyo,”sapa Hye Sun pada kedua perempuan itu. “Nama saya Go Hye Sun. Salam kenal.”
“Namaku Oh Ye Soung,”kata perempuan berambut ikal. “Salam kenal.”
“Dan aku Kim Chan Hee,”kata perempuan berambut lurus. “Salam kenal.”
“Hye Sun, mereka berdua chef di sini,”kata Seung Ji menjelaskan. “Kau harus membantu mereka selama mereka memasak. Arasseo?”
“Ne.”
Setelah itu satu per satu pegawai restoran masuk. Hye Sun bingung menghafal nama-nama mereka sebab pegawai La Sfera banyak sekali.
“Jadi Won Il oppa sendiri yang menawarimu pekerjaan ini?”tanya Han Chan Hee.
“Won Il oppa?”ulang Hye Sun lambat-lambat. Dia terperangah.
“Shhh.”Chan Hee menempelkan telunjuk di bibirnya. “Kami, pegawai wanita restoran ini, senang sekali memanggil manajer Choi dengan sebutan oppa. Habis dia ganteng sekali.”
Teman-temannya sesama pelayan mengangguk sambil terkikik.
“Dia pantas sekali menjadi model atau aktor,”kata Lee Soul, salah seorang pelayan, membenarkan. “Tapi kami tidak berani memanggilnya oppa jika berhadapan langsung dengannya. Kami tetap memanggilnya manajer Choi.”
“Arasseo.”
“Aigo (=ya ampun), kalian ini.”Seung Ji menggelengkan kepala. “Kudengar manajer Choi kini dekat dengan seorang perancang busana."
“Sincha?”kata Ye Soung. “Bukankah oppa dekat dengan seorang artis? Siapa tuh? Song In Young?”
“Manajer Choi kan playboy,”kata chef Ho Nam. “Aku tidak mengerti mengapa kalian begitu menyukainya.”
Ketika salah seorang pelayan wanita hendak membalasnya, Seorang office boy (Hye Sun juga sudah lupa namanya) berkata, “Eh, kepala chef Seon Kyun datang.”
Para pegawai ribut. Mereka yang bukan chef hendak berhamburan keluar dapur, namun Seon Kyun sudah masuk ke dalam dapur sehingga mereka berdiri terpaku di tempatnya. Won Il mengikutinya dari belakang. Mereka berdiri di depan meja panjang. Sekilas tinggi kedua lelaki itu sama. Namun jika diperhatikan lebih teliti lagi, Won Il lebih tinggi dua senti daripada Seon Kyun.
Seon Kyun berdehem. “Rupanya semua pegawai berkumpul di sini.”
Dia mengedarkan pandang ke semua staf yang diam. Bahkan ada beberapa yang menundukkan kepala. Kedua tangannya menyilang di belakang tubuhnya.
“Pagi ini ada meeting sebentar dengan kalian semua,”lanjutnya. “Sebab aku akan mengenalkan asisten dapur yang baru. Noona Go Hye Sun, kemarilah.”
Hye Sun berjalan ke depan meja panjang.
“Hei, Seung Ji,”panggil Seon Kyun lantang ketika melihat Seung Ji berdiri di sudut dapur, hampir tertutupi oleh staf yang lain. “Mengapa kau masih ada di sini? Bukankah kau sudah kupecat?”
Hye Sun berdiri di samping Seon Kyun dengan kaki gemetar. Orang ini galak sekali, pikirnya.
Seung Ji hendak menjawab ketika Won Il meletakkan tangannya di bahu Seon Kyun.
“Tidak apa-apa, hyeong,”kata Won Il pelan. “Hanya untuk hari ini. Aku yang mengizinkannya.”
Seon Kyun mengangkat bahu. “Baiklah. Nah, Hye Sun,”dia menoleh ke Hye Sun. “Silakan perkenalkan dirimu.”
“Annyeong haseyo. Nama saya Go Hye Sun. Salam kenal.”

 Lee Seon Kyun berdiri di depan meja panjang sambil berkacak pinggang. Dia memandang satu per satu chef yang sudah berdiri di posisinya masing-masing, menghadap ke tempat penggorengan.
“Hari ini,”katanya. “seperti hari-hari sebelumnya. Kita harus bisa menyajikan hidangan terbaik untuk pelanggan. Arasseo?”
“Arasseo, chef,”jawab semua chef lantang.
“Hye Sun,”kata Seon Kyun. “Kau sudah mengerti tugas-tugasmu?”
“Ne, chef,”teriak Hye Sun, yang berdiri paling ujung.
Seon Kyun mengambil secarik kertas yang ada di atas meja.
“Meja nomor satu,”katanya membacakan pesanan. “Dua spaghetti saus krim dengan daging asap dan telur.”
Dia mengambil kertas berikutnya. “Meja nomor dua. Satu pasta dengan saus lada hitam dan satu lobster panggang pedas.”
Kemudian dia mengambil kertas terakhir. “Meja nomor tiga. Satu linguini asam pedas dan satu salad. Nah, kerjakan. Go go go!”
Dapur langsung riuh oleh dentingan wajan yang menyentuh tempat penggorengan dan teriakan chef-chef yang memerintah asisten dapur untuk mengambil bahan-bahan yang mereka butuhkan di ruang penyimpanan.
Seon Kyun berjalan berkeliling untuk melihat para bawahannya bekerja. Sesekali dia memberi saran atau mencicipi kaldu yang ada di wajan. Dia juga memperhatikan asisten dapur baru itu bekerja. Mungkin karena dia masih muda, dia terlihat sangat lincah. Dia keluar masuk ruang penyimpanan dengan semangat.
Chef Ho Nam menyodorkan sepiring pasta dengan saus lada hitam kepada Seon Kyun. Sebelum diserahkan kepada pelanggan, hidangan harus lolos tes kepala chef terlebih dahulu.
Hanya dengan melihat sekilas Seon Kyun sudah bisa menilai. “Masakan apa ini? Lihat, pasta ini sangat berminyak. Kau terlalu banyak menuang minyak zaitunnya. Kurangi minyak zaitunnya sebanyak setengah sendok teh. Ulang! Hye Sun, buang pasta ini ke tempat sampah.”
Ho Nam tertunduk dalam dan kembali ke posisinya, sementara asisten dapur berlari mendekati Seon Kyun dan mengambil masakan itu.
Chef berikutnya menyodorkan linguini asam pedas.
Seon Kyun membungkuk untuk mencium aromanya kemudian mengambil garpu untuk mengambil secuil linguini. Dia mencicipinya.
“Oke,”katanya. “Bagus.”
Chef yang bertugas membuat salad datang membawa pesanan. Makanan itu juga lolos tes. Seon Kyun menekan bel yang ada di sampingnya. Beberapa saat kemudian seorang pelayan pria masuk dan membawa kedua pesanan itu kepada pelanggan.


= to be continue =




La Sfera (Part 1)

La Sfera (Part 1)
(Cerita, tokoh, karakter, dan setting adalah khayalan penulis semata.
Maaf jika ada yang salah. Namanya juga karangan.. ^^)


Malam telah larut.
Jam yang menempel di salah satu dinding dapur sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit, namun kepala chef Lee Seon Kyun masih berada di dapur, mengawasi Kang Seung Ji, asisten dapur, yang sedang sibuk membersihkan dapur.
Seon Kyun mengangkat salah satu piring yang telah dicuci Seung Ji dan mengusap permukaannya dengan jari telunjuknya. Dia menggenggam piring itu sambil memejamkan mata, dadanya naik turun. Dia sudah tak tahan lagi.
“Hei, Seung Ji,”panggilnya dengan nada tinggi.
“Ne (=ya), chef?”Seung Ji mendekati bosnya dengan takut-takut.
“Kau mencuci piring tidak bersih. Lihat ini! Permukaannya masih berminyak.”
Kepala Seung Ji tertunduk semakin dalam. “Mianhamnida  (=maaf, formal), chef. Saya akan membersihkannya sekali lagi.”
“Kau sudah membuat kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya dan kau sudah mengetahui konsekuensinya sejak awal,”Seon Kyun terdiam selama beberapa saat. “Kau dipecat.”
Seung Ji mendongak menatap pimpinannya. “Chef, jebal (=kumohon)...”
Namun Seon Kyun sudah meletakkan piring ke atas meja dan pergi meninggalkan Seung Ji sendirian di dapur.
Dalam perjalanannya menuju kantornya Seon Kyun bertemu dengan Choi Won Il, manajer restoran.
“Hyeong (=panggilan dari pria kepada pria yang lebih tua),”baru saja Won Il hendak menyapa, Seon Kyun melewatinya. Dia terus berjalan masuk ke dalam kantornya.
“Mwo (=ada apa)?”tanya Won Il ketika memasuki kantor Seon Kyun. Dia berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. “Kali ini hyeong memarahi siapa di dapur? Suaramu terdengar hingga ke kantorku.”
Seon Kyun menuang air putih ke dalam gelasnya kemudian meminumnya.
“Seung Ji,”jawabnya. “Aku memecatnya.”
“Kenapa?”
“Lagi-lagi dia tidak bersih mencuci piring. Payah sekali dia. Dia tidak tahu bahwa sisa minyak yang masih tertinggal di piring akan mempengaruhi cita rasa pasta yang diletakkan di atas piring itu.”
“Hyeong...”
“Jangan bicara lagi,”potong Seon Kyun, menuang air putih kembali. “Kau pasti akan memohon supaya memberinya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Benar kan? Aku sudah muak, dongsaeng (=adik). Aku tidak butuh pegawai payah seperti dia.”
Won Il menghela napas panjang, mengawasi Seon Kyun meminum air putihnya. “Jadi kau menginginkan asisten dapur yang baru?”
“Ne,”Seon Kyun mengusap mulutnya. “Asisten dapur yang gesit dan teliti. Kuharap kau bisa menemukan orang seperti itu secepatnya, dongsaeng.”
Won Il mengangguk. “Arasseo (=aku mengerti). Aku pergi dulu, hyeong.”

Choi Won Il berdiri di dekat pintu dapur seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Dia mengedarkan pandangan dan menilai bahwa dapur telah dibersihkan dan ditata dengan sangat baik. Di salah satu sudut dapur terlihat Seung Ji sedang mencuci ulang semua piring. Dia memastikan tidak ada minyak pada semua piring itu. Dia bahkan mengangkat tinggi piring itu, dengan bantuan sinar rembulan yang menembus jendela dapur, untuk melihat tidak ada setitik pun yang mengkilat pada piringnya.
Won Il berjalan pelan mendekati Seung Ji, berusaha supaya sepatu pantofelnya tidak membuat suara saat dia melangkah. Ketika berdiri tepat di belakang stafnya, dia berdehem.
Seung Ji terlonjak kaget.
“Oh, manajer Choi,”katanya. “Selamat malam.”
“Selamat malam, ahjussi (=paman).”Won Il menggigit bibir. Dia merasa tidak enak dan kasihan pada orang tua itu. “Saya minta maaf karena hari ini Anda dipecat.”
“Manajer Choi, mengapa Anda bicara begitu formal kepada saya?”tanya Seung Ji heran. Dia menghela napas panjang, wajahnya terlihat tertekan. “Harus saya akui bahwa saya sangat kecewa karena kepala chef Seon Kyun memecat saya. Namun saya juga mengakui bahwa saya telah melakukan kesalahan malam ini.”
“Setelah ini Anda akan bekerja di mana?”
Seung Ji menggeleng. “Tidak tahu, manajer”
Kepala Won Il tertunduk dalam. “Mianhamnida (=maaf, formal), ahjussi.”
“Manajer Choi, Anda tidak perlu minta maaf berulang kali,”kata Seung Ji tidak enak. Dia meletakkan piring terakhir ke dalam rak. “Pekerjaan saya telah selesai. Saya ingin pulang sekarang.”
“Bagaimana kalau kita pergi keluar makan bersama?”
“Maaf?”Seung Ji merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
“Yah, saya ingin Anda menemani saya makan malam di luar. Bagaimana?”
 “Jika memang itu kemauan manajer, baiklah.”
“Tolong jangan panggil saya manajer, ahjussi. Saya bukan manajer Anda lagi.”
“Arasseo.”
“Tapi, ngomong-ngomong, sebaiknya kita makan di mana ya? Anda punya rekomendasi?”
Senyum Seung Ji mengembang. “Tentu saja.”

Go Hye Sun mengaduk mie dalam panci dengan penuh semangat. Hari ini dia senang sekali. Go Hye Ah, adik perempuannya, diterima di Kyung Seung University, salah satu kampus top di Korea Selatan. Hye Ah memilih jurusan pengobatan tradisional. Meskipun Hye Sun harus rela tidak bisa mencicipi bangku kuliah karena masalah kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya, namun dia sangat bersyukur melihat adiknya bisa menjadi mahasiswi. Kini adiknya tidak membantunya bekerja di kedai mie milik keluarganya seperti biasanya karena Hye Ah sedang mengurus pendaftaran ulang di kampusnya.
Hye Sun meletakkan mie yang telah matang ke dalam 4 mangkuk yang telah disiapkan sebelumnya. Kemudian dia meletakkan sayur dan daging bebek di atasnya.
“Pesanan sudah siap,”teriaknya.
Go Joong Wook, ayahnya, tergopoh-gopoh masuk ke dapur.
“Ini pesanan berikutnya,”katanya sambil meletakkan secarik kertas.
Dia mengambil mangkuk-mangkuk yang siap saji itu dan menatanya di atas nampan. Kemudian dia pergi menemui pelanggannya. Joong Wook tidak akan sesibuk itu jika anak bungsunya membantunya bekerja.
Hye Sun hendak mengambil mie dalam kotak, siap memasak pesanan berikutnya, ketika Hye Ah memanggilnya.
“Eonni (=panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua).”                         
Hye Sun memandang Hye Ah dengan wajah cerah, namun dia bingung karena adiknya justru terlihat murung.
“Wuee?”
“Aku tidak ingin kuliah, Eonni.”
“Kenapa?”
“Biaya pendidikannya mahal sekali,”dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya dan menunjukkannya pada Hye Sun.
Hye Sun terbelalak menatap rincian biaya tiap semester yang harus ditanggung setiap mahasiswa jurusan pengobatan tradisional Kyung Seung University, 500.000 won (=mata uang Korea).
“Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”Hye Ah terlihat putus asa.
“Jangan khawatir. Kita pasti bisa.”
“Tapi Eonni...”
“Anio (=tidak). Kau harus kuliah, Hye Ah, jangan seperti aku.”
Dua jam kemudian Hye Sun tidak berkonsentrasi membersihkan kaca jendela kedai. Ayah dan adiknya telah tidur duluan. Dia melamun memikirkan biaya pendidikan adiknya. Hye Ah benar. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Dia menyipitkan mata ketika mendadak ada yang menyinari bagian depan kedai mienya. Rupanya itu adalah sinar lampu depan mobil yang berhenti di depan kedainya. Dua orang keluar dari dalam mobil. Yang satu seorang lelaki jangkung memakai kemeja putih, yang lengan kemejanya digulung hingga siku. Sedangkan yang satunya adalah seseorang yang sangat dikenal Hye Sun.
“Ahjussi?”kata Hye Sun, terperangah melihat Kang Seung Ji baru saja keluar dari dalam mobil mewah.
“Ah, Hye Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan kan?”
Hye Sun mengangguk.

Choi Won Il menghentikan mobil sedan hitamnya di depan sebuah kedai sederhana.
“Kedai ini yang ahjussi maksud?”tanyanya.
“Ne,”jawab Seung Ji. “Meskipun kedai ini sederhana, kujamin mienya sangat enak. Ayo.”
Mereka turun. Won Il melihat Seorang gadis nampak bingung dengan kedatangan mereka.
“Ahjussi?”sepertinya gadis itu mengenal Seung Ji.
“Ah, Hye Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan kan?”
Gadis itu mengangguk. Dia mempersilakan mereka masuk.
“Kami pesan dua porsi mie daging bebek ya,”kata Seung Ji setelah dia dan Won Il duduk di salah satu bangku.
Gadis yang bernama Hye Sun itu mengangguk lalu masuk ke dalam.
“Ahjussi tinggal dimana?”tanya Won Il.
“Di sebuah dorm (=tempat tinggal) sederhana. Satu blok dari kedai ini.”
“Wah, berarti dorm Anda jauh sekali dengan restoran.”
“Begitulah. Kedai ini langgananku. Aku kenal baik dengan keluarga pemilik kedai ini. Gadis tadi bernama Go Hye Sun. Ayahnya bernama Go Joong Wook. Sedangkan adiknya bernama Go Hye Ah. Dia baru saja diterima di Kyung Seung University.”
“Ibunya?”
“Ah,”Seung Ji terihat prihatin. “Ibunya bernama Han Ji Soon. Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu akibat kanker. Keluarga ini tidak mempu membiayai pengobatannya.”
“Naega jeongmal mianhamnida (=aku sangat menyesal), ahjussi. Aku telah lancang bertanya.”
Ketika Seung Ji hendak menimpali, pesanan telah datang.
“Gomapseumnida (=terima kasih, formal), noona (=panggilan dari pria kepada perempuan muda),”kata Won Il ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya.
“Kau terlihat tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun menggeleng. “Anio.”
“Kau tidak pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah apa?”
Kemudian gadis itu mengeluhkan tentang tingginya biaya pendidikan adiknya.
Won Il merasa kasihan dengan gadis itu. Dia memang dilahirkan dari keluarga berada. Namun ayahnya, Choi Si Hae, seorang pengusaha sukses, berusaha untuk tidak memanjakannya. Dia disekolahkan di sekolah negeri dan bergaul dengan semua orang, baik miskin maupun kaya. Selepas kuliah manajemen Won Il juga tidak langsung ditempatkan di posisi manajer sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya, melainkan dari bawah. Mulai dari office boy, pramusaji, hingga asisten dapur. Hal ini dilakukan Si Hae supaya Won Il mengerti bagaimana rasanya menjadi bawahan sehingga dia tidak berbuat sewenang-wenang kepada mereka. Selama itu Si Hae merahasiakan kenyataan bahwa Won Il adalah putranya, dan selalu mengelak ketika pegawainya bertanya-tanya mengapa nama keluarga mereka sama, bahkan wajah keduanya pun mirip. Barulah ketika Won Il menjabat sebagai manajer, Si Hae mengakui bahwa Won Il adalah putranya.
“Bagaimana kalau noona bekerja di restoran saya?”tanyanya, mendapatkan ide.
“Apa?”

Dari dapur Go Hye Sun dapat mendengar suara Seung Ji yang menceritakan tentang keluarganya. Ketika pemuda itu menimpali, Hye Sun menilai kalau pemuda itu adalah lelaki yang sopan.
Hye Sun keluar dari dapur sambil membawa nampan. Dia menghampiri pelanggannya. Bahkan saat duduk pun Seung Ji hanya terlihat setinggi telinga pemuda itu.
“Gomapseumnida, noona,”kata lelaki itu ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya dengan tangan gemetar. Dia mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh lelaki itu.
“Kau terlihat tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun menggeleng. “Anio.”
“Kau tidak pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah apa?”
“Seperti yang ahjussi ketika kalau Hye Ah berhasil diterima di Kyung Seung University. Tapi biaya pendidikan di sana tinggi sekali. Tiap semester aku harus mengeluarkan lima ratus ribu won. Aku tidak tahu darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”
“Bagaimana kalau noona bekerja di restoran saya?”tanya pemuda itu.
“Apa?”Hye Sun terkejut sekali.
“Ah, aku lupa belum memperkenalkanmu dengan Choi Won Il ssi (=tuan). Dia adalah manajer restoran tempatku bekerja. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Tidak lagi? Apa maksud ahjussi?”
Seung Ji menghela napas. Dia terlihat sangat sedih. “Aku dipecat.”
“Kenapa?”
“Sudahlah. Aku benci membahas masalahku sendiri.”
“Noona bisa bekerja di restoranku, sedangkan ahjussi bisa bekerja di kedai ini, bagaimana?”
“Tapi biaya pendidikan adikku paling lambat dibayar minggu depan, ssi.”
“Noona bisa berhutang padaku sekarang,”timpal Won Il tegas.
“Huh?”Hye Sun bengong.
“Jika noona bekerja di restoran saya, Anda akan mendapatkan gaji dua ratus ribu won tiap bulannya. Jadi, jika noona berhutang kepada saya sekarang, Anda hanya butuh waktu paling lama 3 bulan untuk melunasinya, bukan?”
Hye Sun terdiam. Dia merasa melayang ketika memandang senyum menawan yang menghiasi wajah tampan lelaki itu.
“Sudah, kau terima saja,”kata Seung Ji. “Won Il ssi orangnya baik sekali.”
“Eh,”kata Hye Sun ragu-ragu, “saya bekerja di restoran Anda sebagai apa?”
“Asisten dapur, menggantikan ahjussi,”sekilas Won Il melirik Seung Ji. “Bagaimana?”
Akhirnya Hye Sun memantapkan hatinya. “Ne.”


= to be continue =