Selasa, 18 Desember 2012

La Sfera (Part 1)

La Sfera (Part 1)
(Cerita, tokoh, karakter, dan setting adalah khayalan penulis semata.
Maaf jika ada yang salah. Namanya juga karangan.. ^^)


Malam telah larut.
Jam yang menempel di salah satu dinding dapur sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit, namun kepala chef Lee Seon Kyun masih berada di dapur, mengawasi Kang Seung Ji, asisten dapur, yang sedang sibuk membersihkan dapur.
Seon Kyun mengangkat salah satu piring yang telah dicuci Seung Ji dan mengusap permukaannya dengan jari telunjuknya. Dia menggenggam piring itu sambil memejamkan mata, dadanya naik turun. Dia sudah tak tahan lagi.
“Hei, Seung Ji,”panggilnya dengan nada tinggi.
“Ne (=ya), chef?”Seung Ji mendekati bosnya dengan takut-takut.
“Kau mencuci piring tidak bersih. Lihat ini! Permukaannya masih berminyak.”
Kepala Seung Ji tertunduk semakin dalam. “Mianhamnida  (=maaf, formal), chef. Saya akan membersihkannya sekali lagi.”
“Kau sudah membuat kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya dan kau sudah mengetahui konsekuensinya sejak awal,”Seon Kyun terdiam selama beberapa saat. “Kau dipecat.”
Seung Ji mendongak menatap pimpinannya. “Chef, jebal (=kumohon)...”
Namun Seon Kyun sudah meletakkan piring ke atas meja dan pergi meninggalkan Seung Ji sendirian di dapur.
Dalam perjalanannya menuju kantornya Seon Kyun bertemu dengan Choi Won Il, manajer restoran.
“Hyeong (=panggilan dari pria kepada pria yang lebih tua),”baru saja Won Il hendak menyapa, Seon Kyun melewatinya. Dia terus berjalan masuk ke dalam kantornya.
“Mwo (=ada apa)?”tanya Won Il ketika memasuki kantor Seon Kyun. Dia berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. “Kali ini hyeong memarahi siapa di dapur? Suaramu terdengar hingga ke kantorku.”
Seon Kyun menuang air putih ke dalam gelasnya kemudian meminumnya.
“Seung Ji,”jawabnya. “Aku memecatnya.”
“Kenapa?”
“Lagi-lagi dia tidak bersih mencuci piring. Payah sekali dia. Dia tidak tahu bahwa sisa minyak yang masih tertinggal di piring akan mempengaruhi cita rasa pasta yang diletakkan di atas piring itu.”
“Hyeong...”
“Jangan bicara lagi,”potong Seon Kyun, menuang air putih kembali. “Kau pasti akan memohon supaya memberinya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Benar kan? Aku sudah muak, dongsaeng (=adik). Aku tidak butuh pegawai payah seperti dia.”
Won Il menghela napas panjang, mengawasi Seon Kyun meminum air putihnya. “Jadi kau menginginkan asisten dapur yang baru?”
“Ne,”Seon Kyun mengusap mulutnya. “Asisten dapur yang gesit dan teliti. Kuharap kau bisa menemukan orang seperti itu secepatnya, dongsaeng.”
Won Il mengangguk. “Arasseo (=aku mengerti). Aku pergi dulu, hyeong.”

Choi Won Il berdiri di dekat pintu dapur seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Dia mengedarkan pandangan dan menilai bahwa dapur telah dibersihkan dan ditata dengan sangat baik. Di salah satu sudut dapur terlihat Seung Ji sedang mencuci ulang semua piring. Dia memastikan tidak ada minyak pada semua piring itu. Dia bahkan mengangkat tinggi piring itu, dengan bantuan sinar rembulan yang menembus jendela dapur, untuk melihat tidak ada setitik pun yang mengkilat pada piringnya.
Won Il berjalan pelan mendekati Seung Ji, berusaha supaya sepatu pantofelnya tidak membuat suara saat dia melangkah. Ketika berdiri tepat di belakang stafnya, dia berdehem.
Seung Ji terlonjak kaget.
“Oh, manajer Choi,”katanya. “Selamat malam.”
“Selamat malam, ahjussi (=paman).”Won Il menggigit bibir. Dia merasa tidak enak dan kasihan pada orang tua itu. “Saya minta maaf karena hari ini Anda dipecat.”
“Manajer Choi, mengapa Anda bicara begitu formal kepada saya?”tanya Seung Ji heran. Dia menghela napas panjang, wajahnya terlihat tertekan. “Harus saya akui bahwa saya sangat kecewa karena kepala chef Seon Kyun memecat saya. Namun saya juga mengakui bahwa saya telah melakukan kesalahan malam ini.”
“Setelah ini Anda akan bekerja di mana?”
Seung Ji menggeleng. “Tidak tahu, manajer”
Kepala Won Il tertunduk dalam. “Mianhamnida (=maaf, formal), ahjussi.”
“Manajer Choi, Anda tidak perlu minta maaf berulang kali,”kata Seung Ji tidak enak. Dia meletakkan piring terakhir ke dalam rak. “Pekerjaan saya telah selesai. Saya ingin pulang sekarang.”
“Bagaimana kalau kita pergi keluar makan bersama?”
“Maaf?”Seung Ji merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
“Yah, saya ingin Anda menemani saya makan malam di luar. Bagaimana?”
 “Jika memang itu kemauan manajer, baiklah.”
“Tolong jangan panggil saya manajer, ahjussi. Saya bukan manajer Anda lagi.”
“Arasseo.”
“Tapi, ngomong-ngomong, sebaiknya kita makan di mana ya? Anda punya rekomendasi?”
Senyum Seung Ji mengembang. “Tentu saja.”

Go Hye Sun mengaduk mie dalam panci dengan penuh semangat. Hari ini dia senang sekali. Go Hye Ah, adik perempuannya, diterima di Kyung Seung University, salah satu kampus top di Korea Selatan. Hye Ah memilih jurusan pengobatan tradisional. Meskipun Hye Sun harus rela tidak bisa mencicipi bangku kuliah karena masalah kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya, namun dia sangat bersyukur melihat adiknya bisa menjadi mahasiswi. Kini adiknya tidak membantunya bekerja di kedai mie milik keluarganya seperti biasanya karena Hye Ah sedang mengurus pendaftaran ulang di kampusnya.
Hye Sun meletakkan mie yang telah matang ke dalam 4 mangkuk yang telah disiapkan sebelumnya. Kemudian dia meletakkan sayur dan daging bebek di atasnya.
“Pesanan sudah siap,”teriaknya.
Go Joong Wook, ayahnya, tergopoh-gopoh masuk ke dapur.
“Ini pesanan berikutnya,”katanya sambil meletakkan secarik kertas.
Dia mengambil mangkuk-mangkuk yang siap saji itu dan menatanya di atas nampan. Kemudian dia pergi menemui pelanggannya. Joong Wook tidak akan sesibuk itu jika anak bungsunya membantunya bekerja.
Hye Sun hendak mengambil mie dalam kotak, siap memasak pesanan berikutnya, ketika Hye Ah memanggilnya.
“Eonni (=panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua).”                         
Hye Sun memandang Hye Ah dengan wajah cerah, namun dia bingung karena adiknya justru terlihat murung.
“Wuee?”
“Aku tidak ingin kuliah, Eonni.”
“Kenapa?”
“Biaya pendidikannya mahal sekali,”dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya dan menunjukkannya pada Hye Sun.
Hye Sun terbelalak menatap rincian biaya tiap semester yang harus ditanggung setiap mahasiswa jurusan pengobatan tradisional Kyung Seung University, 500.000 won (=mata uang Korea).
“Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”Hye Ah terlihat putus asa.
“Jangan khawatir. Kita pasti bisa.”
“Tapi Eonni...”
“Anio (=tidak). Kau harus kuliah, Hye Ah, jangan seperti aku.”
Dua jam kemudian Hye Sun tidak berkonsentrasi membersihkan kaca jendela kedai. Ayah dan adiknya telah tidur duluan. Dia melamun memikirkan biaya pendidikan adiknya. Hye Ah benar. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Dia menyipitkan mata ketika mendadak ada yang menyinari bagian depan kedai mienya. Rupanya itu adalah sinar lampu depan mobil yang berhenti di depan kedainya. Dua orang keluar dari dalam mobil. Yang satu seorang lelaki jangkung memakai kemeja putih, yang lengan kemejanya digulung hingga siku. Sedangkan yang satunya adalah seseorang yang sangat dikenal Hye Sun.
“Ahjussi?”kata Hye Sun, terperangah melihat Kang Seung Ji baru saja keluar dari dalam mobil mewah.
“Ah, Hye Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan kan?”
Hye Sun mengangguk.

Choi Won Il menghentikan mobil sedan hitamnya di depan sebuah kedai sederhana.
“Kedai ini yang ahjussi maksud?”tanyanya.
“Ne,”jawab Seung Ji. “Meskipun kedai ini sederhana, kujamin mienya sangat enak. Ayo.”
Mereka turun. Won Il melihat Seorang gadis nampak bingung dengan kedatangan mereka.
“Ahjussi?”sepertinya gadis itu mengenal Seung Ji.
“Ah, Hye Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan kan?”
Gadis itu mengangguk. Dia mempersilakan mereka masuk.
“Kami pesan dua porsi mie daging bebek ya,”kata Seung Ji setelah dia dan Won Il duduk di salah satu bangku.
Gadis yang bernama Hye Sun itu mengangguk lalu masuk ke dalam.
“Ahjussi tinggal dimana?”tanya Won Il.
“Di sebuah dorm (=tempat tinggal) sederhana. Satu blok dari kedai ini.”
“Wah, berarti dorm Anda jauh sekali dengan restoran.”
“Begitulah. Kedai ini langgananku. Aku kenal baik dengan keluarga pemilik kedai ini. Gadis tadi bernama Go Hye Sun. Ayahnya bernama Go Joong Wook. Sedangkan adiknya bernama Go Hye Ah. Dia baru saja diterima di Kyung Seung University.”
“Ibunya?”
“Ah,”Seung Ji terihat prihatin. “Ibunya bernama Han Ji Soon. Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu akibat kanker. Keluarga ini tidak mempu membiayai pengobatannya.”
“Naega jeongmal mianhamnida (=aku sangat menyesal), ahjussi. Aku telah lancang bertanya.”
Ketika Seung Ji hendak menimpali, pesanan telah datang.
“Gomapseumnida (=terima kasih, formal), noona (=panggilan dari pria kepada perempuan muda),”kata Won Il ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya.
“Kau terlihat tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun menggeleng. “Anio.”
“Kau tidak pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah apa?”
Kemudian gadis itu mengeluhkan tentang tingginya biaya pendidikan adiknya.
Won Il merasa kasihan dengan gadis itu. Dia memang dilahirkan dari keluarga berada. Namun ayahnya, Choi Si Hae, seorang pengusaha sukses, berusaha untuk tidak memanjakannya. Dia disekolahkan di sekolah negeri dan bergaul dengan semua orang, baik miskin maupun kaya. Selepas kuliah manajemen Won Il juga tidak langsung ditempatkan di posisi manajer sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya, melainkan dari bawah. Mulai dari office boy, pramusaji, hingga asisten dapur. Hal ini dilakukan Si Hae supaya Won Il mengerti bagaimana rasanya menjadi bawahan sehingga dia tidak berbuat sewenang-wenang kepada mereka. Selama itu Si Hae merahasiakan kenyataan bahwa Won Il adalah putranya, dan selalu mengelak ketika pegawainya bertanya-tanya mengapa nama keluarga mereka sama, bahkan wajah keduanya pun mirip. Barulah ketika Won Il menjabat sebagai manajer, Si Hae mengakui bahwa Won Il adalah putranya.
“Bagaimana kalau noona bekerja di restoran saya?”tanyanya, mendapatkan ide.
“Apa?”

Dari dapur Go Hye Sun dapat mendengar suara Seung Ji yang menceritakan tentang keluarganya. Ketika pemuda itu menimpali, Hye Sun menilai kalau pemuda itu adalah lelaki yang sopan.
Hye Sun keluar dari dapur sambil membawa nampan. Dia menghampiri pelanggannya. Bahkan saat duduk pun Seung Ji hanya terlihat setinggi telinga pemuda itu.
“Gomapseumnida, noona,”kata lelaki itu ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya dengan tangan gemetar. Dia mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh lelaki itu.
“Kau terlihat tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun menggeleng. “Anio.”
“Kau tidak pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah apa?”
“Seperti yang ahjussi ketika kalau Hye Ah berhasil diterima di Kyung Seung University. Tapi biaya pendidikan di sana tinggi sekali. Tiap semester aku harus mengeluarkan lima ratus ribu won. Aku tidak tahu darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”
“Bagaimana kalau noona bekerja di restoran saya?”tanya pemuda itu.
“Apa?”Hye Sun terkejut sekali.
“Ah, aku lupa belum memperkenalkanmu dengan Choi Won Il ssi (=tuan). Dia adalah manajer restoran tempatku bekerja. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Tidak lagi? Apa maksud ahjussi?”
Seung Ji menghela napas. Dia terlihat sangat sedih. “Aku dipecat.”
“Kenapa?”
“Sudahlah. Aku benci membahas masalahku sendiri.”
“Noona bisa bekerja di restoranku, sedangkan ahjussi bisa bekerja di kedai ini, bagaimana?”
“Tapi biaya pendidikan adikku paling lambat dibayar minggu depan, ssi.”
“Noona bisa berhutang padaku sekarang,”timpal Won Il tegas.
“Huh?”Hye Sun bengong.
“Jika noona bekerja di restoran saya, Anda akan mendapatkan gaji dua ratus ribu won tiap bulannya. Jadi, jika noona berhutang kepada saya sekarang, Anda hanya butuh waktu paling lama 3 bulan untuk melunasinya, bukan?”
Hye Sun terdiam. Dia merasa melayang ketika memandang senyum menawan yang menghiasi wajah tampan lelaki itu.
“Sudah, kau terima saja,”kata Seung Ji. “Won Il ssi orangnya baik sekali.”
“Eh,”kata Hye Sun ragu-ragu, “saya bekerja di restoran Anda sebagai apa?”
“Asisten dapur, menggantikan ahjussi,”sekilas Won Il melirik Seung Ji. “Bagaimana?”
Akhirnya Hye Sun memantapkan hatinya. “Ne.”


= to be continue =

Tidak ada komentar:

Posting Komentar