La Sfera (Part 1)
(Cerita, tokoh, karakter, dan setting adalah khayalan penulis semata.
Maaf jika ada yang salah. Namanya juga karangan.. ^^)
Malam telah
larut.
Jam yang
menempel di salah satu dinding dapur sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih
sepuluh menit, namun kepala chef Lee Seon Kyun masih berada di dapur, mengawasi
Kang Seung Ji, asisten dapur, yang sedang sibuk membersihkan dapur.
Seon Kyun
mengangkat salah satu piring yang telah dicuci Seung Ji dan mengusap
permukaannya dengan jari telunjuknya. Dia menggenggam piring itu sambil
memejamkan mata, dadanya naik turun. Dia sudah tak tahan lagi.
“Hei, Seung Ji,”panggilnya
dengan nada tinggi.
“Ne (=ya),
chef?”Seung Ji mendekati bosnya dengan takut-takut.
“Kau mencuci
piring tidak bersih. Lihat ini! Permukaannya masih berminyak.”
Kepala Seung Ji
tertunduk semakin dalam. “Mianhamnida (=maaf,
formal), chef. Saya akan membersihkannya sekali lagi.”
“Kau sudah
membuat kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya dan kau sudah mengetahui
konsekuensinya sejak awal,”Seon Kyun terdiam selama beberapa saat. “Kau
dipecat.”
Seung Ji
mendongak menatap pimpinannya. “Chef, jebal (=kumohon)...”
Namun Seon Kyun
sudah meletakkan piring ke atas meja dan pergi meninggalkan Seung Ji sendirian
di dapur.
Dalam perjalanannya
menuju kantornya Seon Kyun bertemu dengan Choi Won Il, manajer restoran.
“Hyeong
(=panggilan dari pria kepada pria yang lebih tua),”baru saja Won Il hendak
menyapa, Seon Kyun melewatinya. Dia terus berjalan masuk ke dalam kantornya.
“Mwo (=ada
apa)?”tanya Won Il ketika memasuki kantor Seon Kyun. Dia berdiri sambil
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. “Kali ini hyeong
memarahi siapa di dapur? Suaramu terdengar hingga ke kantorku.”
Seon Kyun
menuang air putih ke dalam gelasnya kemudian meminumnya.
“Seung Ji,”jawabnya.
“Aku memecatnya.”
“Kenapa?”
“Lagi-lagi dia
tidak bersih mencuci piring. Payah sekali dia. Dia tidak tahu bahwa sisa minyak
yang masih tertinggal di piring akan mempengaruhi cita rasa pasta yang
diletakkan di atas piring itu.”
“Hyeong...”
“Jangan bicara
lagi,”potong Seon Kyun, menuang air putih kembali. “Kau pasti akan memohon
supaya memberinya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Benar
kan? Aku sudah muak, dongsaeng (=adik). Aku tidak butuh pegawai payah seperti
dia.”
Won Il menghela
napas panjang, mengawasi Seon Kyun meminum air putihnya. “Jadi kau menginginkan
asisten dapur yang baru?”
“Ne,”Seon Kyun
mengusap mulutnya. “Asisten dapur yang gesit dan teliti. Kuharap kau bisa
menemukan orang seperti itu secepatnya, dongsaeng.”
Won Il
mengangguk. “Arasseo (=aku mengerti). Aku pergi dulu, hyeong.”
Choi Won Il
berdiri di dekat pintu dapur seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku
celana panjangnya. Dia mengedarkan pandangan dan menilai bahwa dapur telah
dibersihkan dan ditata dengan sangat baik. Di salah satu sudut dapur terlihat Seung
Ji sedang mencuci ulang semua piring. Dia memastikan tidak ada minyak pada
semua piring itu. Dia bahkan mengangkat tinggi piring itu, dengan bantuan sinar
rembulan yang menembus jendela dapur, untuk melihat tidak ada setitik pun yang
mengkilat pada piringnya.
Won Il berjalan
pelan mendekati Seung Ji, berusaha supaya sepatu pantofelnya tidak membuat
suara saat dia melangkah. Ketika berdiri tepat di belakang stafnya, dia
berdehem.
Seung Ji terlonjak
kaget.
“Oh, manajer
Choi,”katanya. “Selamat malam.”
“Selamat malam,
ahjussi (=paman).”Won Il menggigit bibir. Dia merasa tidak enak dan kasihan
pada orang tua itu. “Saya minta maaf karena hari ini Anda dipecat.”
“Manajer Choi,
mengapa Anda bicara begitu formal kepada saya?”tanya Seung Ji heran. Dia
menghela napas panjang, wajahnya terlihat tertekan. “Harus saya akui bahwa saya
sangat kecewa karena kepala chef Seon Kyun memecat saya. Namun saya juga
mengakui bahwa saya telah melakukan kesalahan malam ini.”
“Setelah ini
Anda akan bekerja di mana?”
Seung Ji
menggeleng. “Tidak tahu, manajer”
Kepala Won Il
tertunduk dalam. “Mianhamnida (=maaf, formal), ahjussi.”
“Manajer Choi,
Anda tidak perlu minta maaf berulang kali,”kata Seung Ji tidak enak. Dia
meletakkan piring terakhir ke dalam rak. “Pekerjaan saya telah selesai. Saya
ingin pulang sekarang.”
“Bagaimana
kalau kita pergi keluar makan bersama?”
“Maaf?”Seung Ji
merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
“Yah, saya
ingin Anda menemani saya makan malam di luar. Bagaimana?”
“Jika memang itu kemauan manajer, baiklah.”
“Tolong jangan
panggil saya manajer, ahjussi. Saya bukan manajer Anda lagi.”
“Arasseo.”
“Tapi,
ngomong-ngomong, sebaiknya kita makan di mana ya? Anda punya rekomendasi?”
Senyum Seung Ji
mengembang. “Tentu saja.”
Go Hye Sun
mengaduk mie dalam panci dengan penuh semangat. Hari ini dia senang sekali. Go
Hye Ah, adik perempuannya, diterima di Kyung Seung University, salah satu
kampus top di Korea Selatan. Hye Ah memilih jurusan pengobatan tradisional.
Meskipun Hye Sun harus rela tidak bisa mencicipi bangku kuliah karena masalah
kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya, namun dia sangat bersyukur melihat
adiknya bisa menjadi mahasiswi. Kini adiknya tidak membantunya bekerja di kedai
mie milik keluarganya seperti biasanya karena Hye Ah sedang mengurus
pendaftaran ulang di kampusnya.
Hye Sun
meletakkan mie yang telah matang ke dalam 4 mangkuk yang telah disiapkan
sebelumnya. Kemudian dia meletakkan sayur dan daging bebek di atasnya.
“Pesanan sudah
siap,”teriaknya.
Go Joong Wook,
ayahnya, tergopoh-gopoh masuk ke dapur.
“Ini pesanan
berikutnya,”katanya sambil meletakkan secarik kertas.
Dia mengambil
mangkuk-mangkuk yang siap saji itu dan menatanya di atas nampan. Kemudian dia
pergi menemui pelanggannya. Joong Wook tidak akan sesibuk itu jika anak
bungsunya membantunya bekerja.
Hye Sun hendak
mengambil mie dalam kotak, siap memasak pesanan berikutnya, ketika Hye Ah
memanggilnya.
“Eonni
(=panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua).”
Hye Sun
memandang Hye Ah dengan wajah cerah, namun dia bingung karena adiknya justru
terlihat murung.
“Wuee?”
“Aku tidak
ingin kuliah, Eonni.”
“Kenapa?”
“Biaya
pendidikannya mahal sekali,”dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya
dan menunjukkannya pada Hye Sun.
Hye Sun
terbelalak menatap rincian biaya tiap semester yang harus ditanggung setiap
mahasiswa jurusan pengobatan tradisional Kyung Seung University, 500.000 won
(=mata uang Korea).
“Darimana kita
bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”Hye Ah terlihat putus asa.
“Jangan
khawatir. Kita pasti bisa.”
“Tapi Eonni...”
“Anio (=tidak).
Kau harus kuliah, Hye Ah, jangan seperti aku.”
Dua jam
kemudian Hye Sun tidak berkonsentrasi membersihkan kaca jendela kedai. Ayah dan
adiknya telah tidur duluan. Dia melamun memikirkan biaya pendidikan adiknya.
Hye Ah benar. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Dia menyipitkan
mata ketika mendadak ada yang menyinari bagian depan kedai mienya. Rupanya itu
adalah sinar lampu depan mobil yang berhenti di depan kedainya. Dua orang
keluar dari dalam mobil. Yang satu seorang lelaki jangkung memakai kemeja
putih, yang lengan kemejanya digulung hingga siku. Sedangkan yang satunya
adalah seseorang yang sangat dikenal Hye Sun.
“Ahjussi?”kata
Hye Sun, terperangah melihat Kang Seung Ji baru saja keluar dari dalam mobil mewah.
“Ah, Hye
Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan
kan?”
Hye Sun
mengangguk.
Choi Won Il
menghentikan mobil sedan hitamnya di depan sebuah kedai sederhana.
“Kedai ini yang
ahjussi maksud?”tanyanya.
“Ne,”jawab Seung
Ji. “Meskipun kedai ini sederhana, kujamin mienya sangat enak. Ayo.”
Mereka turun.
Won Il melihat Seorang gadis nampak bingung dengan kedatangan mereka.
“Ahjussi?”sepertinya
gadis itu mengenal Seung Ji.
“Ah, Hye
Sun,”sapa Seung Ji. “Kedaimu mau tutup ya? Tapi kami masih boleh pesan makanan
kan?”
Gadis itu
mengangguk. Dia mempersilakan mereka masuk.
“Kami pesan dua
porsi mie daging bebek ya,”kata Seung Ji setelah dia dan Won Il duduk di salah
satu bangku.
Gadis yang
bernama Hye Sun itu mengangguk lalu masuk ke dalam.
“Ahjussi
tinggal dimana?”tanya Won Il.
“Di sebuah dorm
(=tempat tinggal) sederhana. Satu blok dari kedai ini.”
“Wah, berarti
dorm Anda jauh sekali dengan restoran.”
“Begitulah.
Kedai ini langgananku. Aku kenal baik dengan keluarga pemilik kedai ini. Gadis
tadi bernama Go Hye Sun. Ayahnya bernama Go Joong Wook. Sedangkan adiknya
bernama Go Hye Ah. Dia baru saja diterima di Kyung Seung University.”
“Ibunya?”
“Ah,”Seung Ji
terihat prihatin. “Ibunya bernama Han Ji Soon. Dia sudah meninggal 5 tahun yang
lalu akibat kanker. Keluarga ini tidak mempu membiayai pengobatannya.”
“Naega jeongmal
mianhamnida (=aku sangat menyesal), ahjussi. Aku telah lancang bertanya.”
Ketika Seung Ji
hendak menimpali, pesanan telah datang.
“Gomapseumnida
(=terima kasih, formal), noona (=panggilan dari pria kepada perempuan muda),”kata
Won Il ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya.
“Kau terlihat
tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun
menggeleng. “Anio.”
“Kau tidak
pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah
apa?”
Kemudian gadis
itu mengeluhkan tentang tingginya biaya pendidikan adiknya.
Won Il merasa
kasihan dengan gadis itu. Dia memang dilahirkan dari keluarga berada. Namun
ayahnya, Choi Si Hae, seorang pengusaha sukses, berusaha untuk tidak
memanjakannya. Dia disekolahkan di sekolah negeri dan bergaul dengan semua
orang, baik miskin maupun kaya. Selepas kuliah manajemen Won Il juga tidak
langsung ditempatkan di posisi manajer sesuai dengan bidang ilmu yang
ditekuninya, melainkan dari bawah. Mulai dari office boy, pramusaji, hingga asisten dapur. Hal ini dilakukan Si
Hae supaya Won Il mengerti bagaimana rasanya menjadi bawahan sehingga dia tidak
berbuat sewenang-wenang kepada mereka. Selama itu Si Hae merahasiakan kenyataan
bahwa Won Il adalah putranya, dan selalu mengelak ketika pegawainya
bertanya-tanya mengapa nama keluarga mereka sama, bahkan wajah keduanya pun
mirip. Barulah ketika Won Il menjabat sebagai manajer, Si Hae mengakui bahwa
Won Il adalah putranya.
“Bagaimana
kalau noona bekerja di restoran saya?”tanyanya, mendapatkan ide.
“Apa?”
Dari dapur Go Hye
Sun dapat mendengar suara Seung Ji yang menceritakan tentang keluarganya.
Ketika pemuda itu menimpali, Hye Sun menilai kalau pemuda itu adalah lelaki
yang sopan.
Hye Sun keluar
dari dapur sambil membawa nampan. Dia menghampiri pelanggannya. Bahkan saat
duduk pun Seung Ji hanya terlihat setinggi telinga pemuda itu.
“Gomapseumnida,
noona,”kata lelaki itu ketika Hye Sun meletakkan semangkuk mie di depannya
dengan tangan gemetar. Dia mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh
lelaki itu.
“Kau terlihat
tidak baik, Hye Sun,”kata Seung Ji, mengamati wajah Hye Sun. “Ada masalah?”
Hye Sun menggeleng.
“Anio.”
“Kau tidak
pandai berbohong, Hye Sun. Ayo duduk sini. Ceritalah kepadaku, ada masalah
apa?”
“Seperti yang
ahjussi ketika kalau Hye Ah berhasil diterima di Kyung Seung University. Tapi biaya
pendidikan di sana tinggi sekali. Tiap semester aku harus mengeluarkan lima
ratus ribu won. Aku tidak tahu darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak
itu?”
“Bagaimana
kalau noona bekerja di restoran saya?”tanya pemuda itu.
“Apa?”Hye Sun
terkejut sekali.
“Ah, aku lupa
belum memperkenalkanmu dengan Choi Won Il ssi (=tuan). Dia adalah manajer
restoran tempatku bekerja. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Tidak lagi?
Apa maksud ahjussi?”
Seung Ji
menghela napas. Dia terlihat sangat sedih. “Aku dipecat.”
“Kenapa?”
“Sudahlah. Aku
benci membahas masalahku sendiri.”
“Noona bisa
bekerja di restoranku, sedangkan ahjussi bisa bekerja di kedai ini, bagaimana?”
“Tapi biaya
pendidikan adikku paling lambat dibayar minggu depan, ssi.”
“Noona bisa
berhutang padaku sekarang,”timpal Won Il tegas.
“Huh?”Hye Sun
bengong.
“Jika noona bekerja
di restoran saya, Anda akan mendapatkan gaji dua ratus ribu won tiap bulannya.
Jadi, jika noona berhutang kepada saya sekarang, Anda hanya butuh waktu paling
lama 3 bulan untuk melunasinya, bukan?”
Hye Sun
terdiam. Dia merasa melayang ketika memandang senyum menawan yang menghiasi
wajah tampan lelaki itu.
“Sudah, kau
terima saja,”kata Seung Ji. “Won Il ssi orangnya baik sekali.”
“Eh,”kata Hye
Sun ragu-ragu, “saya bekerja di restoran Anda sebagai apa?”
“Asisten dapur,
menggantikan ahjussi,”sekilas Won Il melirik Seung Ji. “Bagaimana?”
Akhirnya
Hye Sun memantapkan hatinya. “Ne.”
= to be continue =
Tidak ada komentar:
Posting Komentar