La Sfera*
(Cerita, tokoh, karakter, dan setting adalah khayalan penulis semata.
Maaf
jika ada yang salah. Namanya juga karangan.. ^^)
Bip bip bip...
bip bip bip...
Dengan mata
masih terpejam, Lee Seon Kyun melambaikan tangan kanannya, mencoba meraih jam
weker yang ada di atas laci samping tempat tidurnya. Dia mematikan alarm
kemudian bangkit sambil mengerang.
Dia merentangkan
kedua tangannya ke atas sejenak kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci
muka. Setelah itu dia pergi ruangan gym
mininya untuk jogging di atas treadmill
miliknya pribadi.
Sementara itu,
seratus meter darinya, Go Hye Sun dan Seung Ji baru saja turun dari bis.
“Asisten dapur
adalah orang yang pertama masuk dapur dan orang yang terakhir keluar
dapur,”kata Seung Ji menjelaskan sementara mereka terus berjalan. “Tugas
asisten dapur cukup banyak. Kau harus
menyiapkan bahan-bahan dasar membuat pasta, seperti bawang putih, kaldu, minyak
zaitun, dan lain-lain. Jadi kau harus sudah sampai di restoran jam tujuh pagi. Kemudian
kau harus membantu chef mengambil bahan-bahan di ruang penyimpanan selama
mereka memasak. Selain itu, kau harus membersihkan dan mengepel dapur ketika
semua chef sudah pulang sehingga kau baru bisa pulang sekitar jam sepuluh
malam. Arasseo?”
Hye Sun
mengangguk. “Ne.”
“Nah, ini
tempatnya,”kata Seung Ji ketika mereka berdiri di depan sebuah gedung tinggi
“Huh? Ahjussi,
bukankah ini apartemen?”
“Ne. Di lantai
dasar apartemen ini ada restorannya dan kemarin adalah hari terakhirku bekerja
di sana. Ayo.”
Mereka masuk ke
dalam apartemen mewah itu.
Choi Won Il
baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya berdering. Dia mengambil
ponselnya yang ia letakkan di atas laci kemudian melihat layarnya. Dari Han Hee
Won.
“Haseyo
(=halo). Ne, Hee Won?”
“Haseyo,”jawab
Hee Won di seberang sana. “Oppa (=panggilan dari perempuan kepada pria yang
lebih tua), kau sudah bangun rupanya.”
“Tentu saja.
Aku bahkan sudah mandi.”Won Il nyengir lebar sembari memandang pantulan dirinya
di cermin. Dia menggosok rambut basahnya dengan handuk supaya lekas kering.
“Wuee?”
“Mm, siang ini
kau punya acara tidak?”
Won Il berpikir
sejenak. “Anio. Wuee?”
“Aku ingin
mengajakmu pergi ke sebuah pameran kuliner khas Jepang di suatu tempat. Kau
mau?”
“Tentu saja.
Aku suka wisata kuliner.”
“Oke. Jam dua
belas ya?”
“Mau kujemput?”
“Tentu
saja,”suara Hee Won terdengar semakin riang. “Kau baik sekali.”
“Sampai ketemu.
Bye.”
Dia menutup
ponselnya dan meletakkannya di atas laci sambil tersenyum. Ketika dia memilih
baju di ruangan khusus untuk menyimpan koleksi busananya, ponselnya kembali
berdering.
Won Il kembali
ke kamar tidurnya sambil menenteng kemeja, jas, dan celana panjang yang hendak
dipakainya. Dia menatap layar ponselnya. Dari Kang Seung Ji.
“Haseyo. Ne,
ahjussi?”
“Won Il
ssi,”balas Seung Ji. “kami sudah berada di depan restoran.”
“Arasseo.
Sepuluh menit lagi aku akan tiba di sana.”
Lima menit
kemudian Won Il sudah berada di dalam lift. Sekilas dia melirik jam tangannya. Beberapa
saat kemudian dia keluar lift dan berjalan cepat menemui dua orang yang telah
menunggunya di depan tempat usahanya.
“Annyeong
haseyo (=hai, apa kabar).”
Go Hye Sun
menatap tulisan yang terukir indah di atas pintu masuk restoran itu.
La Sfera.
Hye Sun menoleh
ke kiri dan ke kanan. Koridor ini masih kosong, begitu pula restoran yang ada
di depannya. Secarik kertas bertuliskan Closed
tertempel di salah satu pintu ganda restoran.
“Aku sudah
tidak membawa kunci restoran ini,”kata Seung Ji, memandang pintu restoran itu.
“tapi nanti kau akan menerima kunci untuk membuka restoran ini lebih awal
daripada yang lain.”
Hye Sun
mengangguk mengerti.
“Annyeong
haseyo,”sapa suara tak jauh dari mereka.
Hye Sun
menoleh. Dia melihat Won Il berpakaian
sangat rapi –kemeja biru muda yang dibalut jas berwarna abu-abu yang terkancing
sempurna serta celana panjang yang warnanya senada dengan jasnya. Dia terpesona
melihat cara berjalan Won Il yang cepat namun anggun, sangat mirip dengan
model.
“Selamat pagi,
Won Il ssi,”Seung Ji menunduk memberi hormat.
Hye Sun
menirunya.
Won Il membalasnya,
lalu dia maju sambil merogoh kunci dari saku jasnya. Setelah itu dia membuka
pintu restorannya.
“Silakan,”tangannya
melayang ke bagian dalam restorannya.
Seung Ji dan
Hye Sun masuk ke dalam restoran. Seung Ji langsung menunjukkan kepada Hye Sun
di mana letak dapurnya. Entah mengapa jantung Hye Sun berdebar-debar. Dia
mencium aroma parfum mahal yang berbeda dari tubuh Won Il yang berjalan di
belakang mereka.
Ternyata
dapurnya lebih luas daripada yang bisa Hye Sun bayangkan. Di tengah ruangan terdapat
meja panjang. Di sana berderet tempat penggorengan, sementara di atasnya
bergantungan wajan, panci, dan pengaduk. Di salah satu dinding terdapat rak
tempat menyimpan piring saji dengan aneka bentuk.
“Ini adalah
ruang penyimpanan,”kata Seung Ji seraya membuka pintu ruangan yang lain. Dia
menunjuk kulkas raksasa yang ada di ujung ruangan kecil itu. “Itu adalah freezer, tempat menyimpan hewan-hewan
laut, seperti lobster, kepiting, dan lain-lain.”
“Gomapseumnida,
ahjussi,”kata Won Il ketika mereka berdiri di tengah dapur, di samping meja
panjang. “atas tur singkat yang Anda berikan pada Hye Sun. Saya sangat
terbantu.”
Wajah Hye Sun
terasa panas ketika Won Il memandangnya sembari tersenyum.
“Saya sama
sekali tidak merasa repot, ssi,”jawab Seung Ji. “Setelah ini saya akan
mengajari Hye Sun bagaimana cara mengiris dan memotong bahan sesuai standar restoran
ini.”
“Anda baik
sekali.”Won Il melihat arlojinya. “Saya minta maaf tidak bisa menemani kalian
lebih lama lagi, saya ada urusan lain. Ini kunci restoran, Hye Sun. Permisi.”
Hye Sun
menerima kunci itu dan memandang punggung Won Il hingga menghilang dari
pandangan.
Lee Seon Kyun
berdiri di depan cermin. Dia sedang melilitkan dasi merah di kerah baju chefnya
ketika ponselnya berdering. Nada dering itu lagi. Pagi ini ibunya sudah
berusaha menghubunginya sebanyak tiga kali namun Seon Kyun tidak menggubrisnya.
Sepuluh menit kemudian, ketika penampilannya sudah rapi sehingga tidak ada lagi
yang perlu dibenahi, ponselnya kembali berdering. Seon Kyun menghela napas
panjang dan memungut ponselnya yang ada di atas meja dengan setengah hati.
Tanpa memandang layar dia langsung menempelkan ponselnya di salah satu
telinganya.
“Haseyo. Ne,
eonma (=ibu)?”
“Akhirnya kau
angkat juga teleponmu.”suara ibunya terdengar jengkel.
“Mianhamnida,
eonma.”
“Eonma
mempunyai kenalan baru seorang gadis. Dia cantik sekali.”
Seon Kyun memejamkan
mata, mencoba menahan diri agar tidak menutup ponselnya.
“Haseyo? Seon
Kyun, kau mendengarku?”
“Ne, eonma.”
“Apakah malam
ini kau...”
“Malam ini aku
sudah janji dengan Won Il untuk makan malam bersama di suatu tempat,
eonma,”potong Seon Kyun asal bicara
“Oh begitu.
Kalau besok?”
“Aku tidak
tahu. Eonma, bisa tidak kalau minggu ini tidak ada acara kencan?”
Seon Kyun
mendongak karena mendengar pintu kantornya terbuka dan melihat Won Il masuk ke
ruangannya.
“Seon Kyun, kau
sudah...”
“Mianhamnida,
eonma, manajer masuk ke kantorku. Sudah dulu ya, bye.”
Seon Kyun
menutup ponselnya.
Won Il duduk
bersandar di kursi berlengan yang ada di depan meja. Kaki kanannya bersilang di
atas kaki kirinya.
“Biar
kutebak,”baru saja dia mulai bicara Seon Kyun sudah memotongnya.
“Tidak perlu
kau tebak. Aku tahu tebakanmu benar.”
Seon Kyun
terhenyak di kursi berlengannya dengan wajah muram.
“Jadi,”Won Il bangkit
dan mencondongkan tubuhnya di atas meja, memandang Seon Kyun dengan antusias.
“kapan hyeong kencan lagi?”
Seonn Kyun
mengeluh. “Tidak ada kencan.”
“Tidak ada
kencan?”ulang Won Il bingung. “Lantas?”
“Aku muak
sekali dengan acara kencan yang dibuat eonma.”Seon Kyun menegakkan tubuhnya
untuk menuang air putih ke dalam gelas kemudian meminumnya. Dia merasa
tertekan. “Mengapa eonma selalu memaksaku tertarik dengan kenalan wanitanya?
Entah sampai kapan eonma akan menyerah.”
“Sampai hyeong memutuskan gadis mana yang kau
pilih sebagai istrimu,”jawab Won Il. “Hyeong, umurmu sudah 32 tahun. Kau...”
“Kau mirip
sekali eonma,”potong Seon Kyun jengkel. Dia meletakkan gelas itu. “Tidak ada
yang salah dengan usiaku.”
Won Il diam.
Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang sudah dianggapnya
saudara itu.
“Hari ini kau
tidak ada acara kan? Tadi pagi aku membaca berita di internet. Kabarnya ada
pameran kuliner khas Jepang di Seonul Hotel. Aku ingin mengajakmu pergi ke
sana.”
“Gomawo (=maaf,
informal), hyeong. Siang ini aku akan pergi ke sana dengan Hee Won.”
“Bagus,”sindir Seon
Kyun. “Sekarang kau dekat dengan wanita itu. Kalian pacaran?”
“Anio.”
“Sincha
(=benarkah)?”Seon Kyun tidak percaya. “Tapi bisa kulihat di matanya kalau dia
tertarik padamu. Kemarin kulihat dia menghadiahkanmu mantel yang bagus sekali.”
“Kami hanya
berteman, hyeong.”Won Il menjelaskan dengan sabar. “Mantel itu salah satu rancangannya.
Dia terus menerus memaksaku untuk menjadi model line clothingnya.”
“Kau memang
pantas menjadi model, dongsaeng.”
Won Il
mendengus tertawa. “Kalau aku menjadi model, siapa yang akan menjalankan
restoran ini?”
“Kau bisa menyerahkan
restoran ini padaku.”Namun Seon Kyun cepat-cepat mengoreksinya. “Hanya bergurau.”
Dapur La Sfera dipenuhi
bunyi denting pisau yang beradu dengan nampan kayu. Go Hye Sun sedang memotong
kentang ketika dia mendengar suara orang-orang yang sedang mengobrol di luar
dapur. Makin lama suara mereka makin keras. Dia menoleh ketika pintu dapur
menjeblak terbuka.
“Annyeong
haseyo, ahjussi,”sapa orang-orang yang tadi ngobrol itu.
Seung Ji
menoleh. “Oh, annyeong haseyo.”
Dua orang
perempuan itu mendekati Hye Sun dan Seung Ji.
“Anda
mendapatkan asisten, ahjussi?”tanya perempuan berambut ikal seraya memandang
Hye Sun.
“Anio. Dia
bukan asistenku,”Seung Ji melirik Hye Sun. “Dia menggantikan pekerjaanku di
sini.”
“Apa?”Dua
perempuan itu nampak kaget.
“Wue (=mengapa)?”tanya
perempuan berambut lurus.
“Kemarin malam
kepala chef Seon Kyun memecatku. Kemudian manajer Won Il meminta Hye Sun untuk
menggantikan posisiku.”
“Annyeong
haseyo,”sapa Hye Sun pada kedua perempuan itu. “Nama saya Go Hye Sun. Salam
kenal.”
“Namaku Oh Ye
Soung,”kata perempuan berambut ikal. “Salam kenal.”
“Dan aku Kim
Chan Hee,”kata perempuan berambut lurus. “Salam kenal.”
“Hye Sun,
mereka berdua chef di sini,”kata Seung Ji menjelaskan. “Kau harus membantu
mereka selama mereka memasak. Arasseo?”
“Ne.”
Setelah itu
satu per satu pegawai restoran masuk. Hye Sun bingung menghafal nama-nama
mereka sebab pegawai La Sfera banyak sekali.
“Jadi Won Il
oppa sendiri yang menawarimu pekerjaan ini?”tanya Han Chan Hee.
“Won Il oppa?”ulang Hye Sun lambat-lambat. Dia terperangah.
“Shhh.”Chan Hee
menempelkan telunjuk di bibirnya. “Kami, pegawai wanita restoran ini, senang
sekali memanggil manajer Choi dengan sebutan oppa. Habis dia ganteng sekali.”
Teman-temannya
sesama pelayan mengangguk sambil terkikik.
“Dia pantas sekali
menjadi model atau aktor,”kata Lee Soul, salah seorang pelayan, membenarkan.
“Tapi kami tidak berani memanggilnya oppa jika berhadapan langsung dengannya.
Kami tetap memanggilnya manajer Choi.”
“Arasseo.”
“Aigo (=ya
ampun), kalian ini.”Seung Ji menggelengkan kepala. “Kudengar manajer Choi kini
dekat dengan seorang perancang busana."
“Sincha?”kata
Ye Soung. “Bukankah oppa dekat dengan seorang artis? Siapa tuh? Song In Young?”
“Manajer Choi
kan playboy,”kata chef Ho Nam. “Aku
tidak mengerti mengapa kalian begitu menyukainya.”
Ketika salah seorang
pelayan wanita hendak membalasnya, Seorang office
boy (Hye Sun juga sudah lupa namanya) berkata, “Eh, kepala chef Seon Kyun
datang.”
Para pegawai ribut.
Mereka yang bukan chef hendak berhamburan keluar dapur, namun Seon Kyun sudah
masuk ke dalam dapur sehingga mereka berdiri terpaku di tempatnya. Won Il
mengikutinya dari belakang. Mereka berdiri di depan meja panjang. Sekilas
tinggi kedua lelaki itu sama. Namun jika diperhatikan lebih teliti lagi, Won Il
lebih tinggi dua senti daripada Seon Kyun.
Seon Kyun
berdehem. “Rupanya semua pegawai berkumpul di sini.”
Dia mengedarkan
pandang ke semua staf yang diam. Bahkan ada beberapa yang menundukkan kepala.
Kedua tangannya menyilang di belakang tubuhnya.
“Pagi ini ada meeting sebentar dengan kalian semua,”lanjutnya.
“Sebab aku akan mengenalkan asisten dapur yang baru. Noona Go Hye Sun,
kemarilah.”
Hye Sun
berjalan ke depan meja panjang.
“Hei, Seung
Ji,”panggil Seon Kyun lantang ketika melihat Seung Ji berdiri di sudut dapur,
hampir tertutupi oleh staf yang lain. “Mengapa kau masih ada di sini? Bukankah
kau sudah kupecat?”
Hye Sun berdiri
di samping Seon Kyun dengan kaki gemetar. Orang ini galak sekali, pikirnya.
Seung Ji hendak
menjawab ketika Won Il meletakkan tangannya di bahu Seon Kyun.
“Tidak apa-apa,
hyeong,”kata Won Il pelan. “Hanya untuk hari ini. Aku yang mengizinkannya.”
Seon Kyun
mengangkat bahu. “Baiklah. Nah, Hye Sun,”dia menoleh ke Hye Sun. “Silakan
perkenalkan dirimu.”
“Annyeong
haseyo. Nama saya Go Hye Sun. Salam kenal.”
Lee Seon Kyun berdiri di depan meja panjang
sambil berkacak pinggang. Dia memandang satu per satu chef yang sudah berdiri
di posisinya masing-masing, menghadap ke tempat penggorengan.
“Hari
ini,”katanya. “seperti hari-hari sebelumnya. Kita harus bisa menyajikan
hidangan terbaik untuk pelanggan. Arasseo?”
“Arasseo,
chef,”jawab semua chef lantang.
“Hye Sun,”kata Seon
Kyun. “Kau sudah mengerti tugas-tugasmu?”
“Ne,
chef,”teriak Hye Sun, yang berdiri paling ujung.
Seon Kyun
mengambil secarik kertas yang ada di atas meja.
“Meja nomor
satu,”katanya membacakan pesanan. “Dua spaghetti saus krim dengan daging asap
dan telur.”
Dia mengambil
kertas berikutnya. “Meja nomor dua. Satu pasta dengan saus lada hitam dan satu
lobster panggang pedas.”
Kemudian dia mengambil
kertas terakhir. “Meja nomor tiga. Satu linguini asam pedas dan satu salad. Nah,
kerjakan. Go go go!”
Dapur langsung
riuh oleh dentingan wajan yang menyentuh tempat penggorengan dan teriakan
chef-chef yang memerintah asisten dapur untuk mengambil bahan-bahan yang mereka
butuhkan di ruang penyimpanan.
Seon Kyun
berjalan berkeliling untuk melihat para bawahannya bekerja. Sesekali dia
memberi saran atau mencicipi kaldu yang ada di wajan. Dia juga memperhatikan
asisten dapur baru itu bekerja. Mungkin karena dia masih muda, dia terlihat
sangat lincah. Dia keluar masuk ruang penyimpanan dengan semangat.
Chef Ho Nam menyodorkan
sepiring pasta dengan saus lada hitam kepada Seon Kyun. Sebelum diserahkan
kepada pelanggan, hidangan harus lolos tes kepala chef terlebih dahulu.
Hanya dengan
melihat sekilas Seon Kyun sudah bisa menilai. “Masakan apa ini? Lihat, pasta
ini sangat berminyak. Kau terlalu banyak menuang minyak zaitunnya. Kurangi
minyak zaitunnya sebanyak setengah sendok teh. Ulang! Hye Sun, buang pasta ini
ke tempat sampah.”
Ho Nam tertunduk
dalam dan kembali ke posisinya, sementara asisten dapur berlari mendekati Seon
Kyun dan mengambil masakan itu.
Chef berikutnya
menyodorkan linguini asam pedas.
Seon Kyun
membungkuk untuk mencium aromanya kemudian mengambil garpu untuk mengambil
secuil linguini. Dia mencicipinya.
“Oke,”katanya.
“Bagus.”
Chef
yang bertugas membuat salad datang membawa pesanan. Makanan itu juga lolos tes.
Seon Kyun menekan bel yang ada di sampingnya. Beberapa saat kemudian seorang
pelayan pria masuk dan membawa kedua pesanan itu kepada pelanggan.
= to be continue =
Tidak ada komentar:
Posting Komentar